Pelataran Senja, Yang Telah Mempertemukan Kita Pertama Kali


Aku yakin bahwa kamu tak pernah peduli apakah kita bertemu atau tidak. Berbeda denganku, aku jatuh cinta pada setiap senja yang telah mempertemukan kita. Pertemuan pertama, kedua, ketiga dan pertemuan-pertemuan selanjutnya adalah saat senja, tak sadar kah kamu?.

Pelataran Senja, Yang Telah Mempertemukan Kita Pertama Kali


Senjalah yang telah mempertemukan kita pertama kali kala itu, depan sebuah ruangan perkuliahan yang aku pun yakin itu tak berbekas dalam ingatanmu. Meski kala itu kita bahkan tak bertegur sapa, aku tak tau siapa namamu dan aku yakin kamu tak pernah peduli pada namaku. Tempat itu kini ku sebut sebagai Pelataran Senja, tempat pertama kali kita bertemu, tempat pertama kali aku melihatmu.

Kita kembali bertemu saat senja, di sebuah pelataran tempat banyak orang berlalu lalang, ditengah kebisingan aktivitas beberapa orang. Aku melihatmu lebih banyak terdiam menatap layar ponselmu, berbeda dengan pertemuan pertama kita kala itu.

Aku yang sibuk mencatat pendapat yang dilontarkan setiap orang di tempat kita berada saat itu, setiap tulisan itu menanti suaramu, menanti kamu berbicara dan aku akan menuliskan semuanya dengan sepenuh hatiku, meski tak ku dengar suaramu hingga senja hari itu berakhir. Ingatkah kamu saat tak sengaja mengirimiku pesan via Whatsapp untuk pertama kali? Aku terlambat membuka ponselku kala itu, aku menyesalinya, tapi tak berapa lama ponselku berdering, ku lihat nomor yang belum ku kenal, karena memang kita belum saling mengenal kala itu, aku hanya mengenal wajahmu. Dan saat ku angkat telpon itu, ku dengar suaramu memberi salam dan memperkenalkan diri, aku terkejut dan menjawab setiap pertanyaanmu sebisaku.

Setelahnya aku menjadi begitu sibuk bertanya pada beberapa orang yang lebih dulu mengenalmu, aku mencari tau perihal perjalanan hidupmu, tentu aku bertanya dengan nada dan raut wajah yang tak boleh tertebak oleh siapapun itu. Hingga hari itu tiba, saat suatu masalah datang dan menjatuhkanku pada sebuah jurang yang aku sendiri tak tau bagaimana harus mengakhirinya.

Aku memutuskan segala macam hal yang akan mempertemukanku denganmu, aku meniadakan setiap alasan yang akan menghubungkanku padamu. Aku sedang jatuh dan aku tak ingin kamu melihatku, melihat aku yang sedemikian rapuh untuk hal yang tak akan pernah bisa ku ceritakan pada siapapun kala itu.

Aku memilih menjauh, aku memilih untuk tak lagi muncul di hadapanmu, tak mengirim pesan yang tidak penting seperti biasa, yang hanya untuk mengetahui kabarmu. Semoga pembicaraan kita terakhir kali kala itu memberi kekuatan penuh padaku.

Aku belum pernah merasa sedamai ini saat mengagumi seseorang, kecuali kamu. Terima kasih karena telah begitu banyak pelajaran baru yang sadar atau tidak sadar sudah kamu berikan padaku.

Aku menantikanmu di batas waktu. Salam Senja Dariku.


Penulis : ef.belajarmenulis@gmail.com
Facebook Twitter Google+
Back To Top