Oh, Tuhan Mengapa Kau Ciptakan Rasa Itu Dalam Diriku Sebelum Ia Halal Bagiku #2

Cinta datang karena terbiasa, mungkin itu benar. Sebab bukan waktu yang singkat pertemuan kami. Selama empat tahun kami hidup bersama dalam satu asrama. Setiap waktu kami bisa bertemu meski hanya sebatas menghembuskan angin sesak dari paru-paru dan berlalu tanpa meninggalkan jejak. Kami terbiasa berpapasan tanpa sapa dan senyum, saling memandang kemana arah sendal akan berhenti. Aku yang rajin mengirimkan SMS dakwah untuk memotivasinya dan hanya sekedar agar dia ingat kepadaku. Dan membalasku dengan SMS yang sama, aku hanya mampu tersenyum tipis. Lagi dan lagi aku berbisik “jangan berharap”,,,,,kutekan kuat-kuat perasaanku agar aku tak melambung jauh. Dan diantara rasa berharap dan tak ingin berharap aku terus melanjutkan cerita kehidupanku,,,,,.

Oh, Tuhan Mengapa Kau Ciptakan Rasa Itu Dalam Diriku Sebelum Ia Halal Bagiku #2

          Hampir setiap hari aku bercerita tentang kelucuan akan tingkah dan sifatnya yang aneh kepada teman-temanku. Begitu juga dengan sikapnya yang baik yang patut untuk dicontoh. Aku akan tertawa puas saat bercerita tentangnya tapi juga akan sangat kasian jika membicarakan tentang masalahnya. Sosok yang menurutku sangat sabar dalam menjalani kehidupan ini. Aku tak pernah melihat dia marah dengan melontarkan kata-kata kasar apalagi berteriak saat marah. Aku tak pernah mendengar ia mengeluh dengan segala masalah yang ia hadapi. Hingga kadang sulit bagiku menebak apakah dia sedang kesulitan atau baik-baik saja. Ingin rasanya aku selalu ada di dekatnya saat ia butuh, mendengarkan segala kegelisahan dan masalah yang ia hadapi dan membantunya agar ia merasa ringan untuk menyelesaikan segala hal yang dihadapinya. Tapi aku bingung dari sudut mana aku harus memasuki kehidupannya agar ia tidak merasa terganggu dengan kehadiranku. Ia begitu menikmati kesendirian dan kesunyian padahal disekitarnya ada begitu banyak orang-orang yang peduli kepadanya.

          Komunikasi yang sangat jarang meski berada pada satu atap, membuatku merasa kami berkomunikasi lewat bathin. Aku mencoba merasai perasaannya saat ia diam meski aku hanya bisa memandang dan berprasangka. Kadang aku menyelipkan doa-doa kecil untuknya hanya sekedar memohon kepada yang Kuasa agar dilancarkan segala urusannya dan diberikan kesehatan. Lewat doa-doa kecil itu aku bertahan. Kukatakan semua hal tentangnnya kepada Tuhanku bahwa ia adalah hamba yang baik, hamba yang taat mohon agar segala kebaikan, keberkahan dan kesehatan selalu bersamanya.

          Saat aku hampir menyelesaikan studiku dia tiba-tiba memutuskan untuk meninggalkan asrama. Jauh hari aku telah menyiapkan hatiku agar tak hancur saat ia pergi. Maka dihari saat ia akan meninggalkan rumah aku memutuskan pulang kerumah agar aku tak melihatnya pergi dan tidak mendengarnya berpamitan. Dan saat aku balik, aku telah melihat semuanya telah kosong. Aku hanya bisa menangis dalam hati dan tertawa dihadapan temanku dan mengatakan bahwa dia telah pergi.

          Malam pertama, aku masih merasa biasa saja menganggap dia pulang tengah malam hingga aku ketiduran dan tidak mendengankan bunyi pintunya. Pagi menjelang seperti biasa ia bangun terlalu subuh sehingga saat pagi aku tak akan bertemu sampai aku berangkat kuliah. Sepulang kuliah aku anggap dia masih didalam kamar dan sedang tidur.,,,,,,

          Malam kedua, aku masih merasakan hal yang sama. Aku hibur diriku dengan mendengarkan syair-syair yang biasa ia dengarkan lalu nonton dan tertawa puas dengan teman-temanku. Aku kuatkan diriku sekuat-kuatnya,,,,,,,

          Tapi di malam-malam berikutnya, saat itu asrama terasa sunyi. Tak ada suara darinya, tak ada teman-temanku yang selalu menemaniku. Maka kuputuskan untuk menghibur diriku sendiri. Tak lama kemudian temanku datang, tiba-tiba bulir-bulir hangat terasa jatuh dipipiku, aku tak lagi bisa menahan perasaanku. Aku hanya bisa berkata bahwa aku benci kesunyian, aku tak suka sendiri. Aku kemudian teringan kepadanya mungkinkah selama ini ia merasakan hal yang sama? Kesunyian dan kesendirian? Tapi mengapa ia bisa bertahan? Sementara aku,,,,,,,

          Hari-hari selanjutnya kulalui dengan menyibukkan diriku dengan aktifitas kampus. Setiap pagi aku selalu memandangi kamarnya yang masih tetap kosong. Kadang aku berharap ia akan datang dan membuka kamarnya. Dan setiap malam aku selalu berdoa agar ia selalu menuju mesjid. Aku benar-benar kacau, mungkin hatiku hancur? Di kampus aku selalu melirik keberadaannya tapi tak sekalipun aku melihat sosoknya,,,,

          Hingga suatu hari Allah mempertemukan kami di mesjid kampus. Ia menyapaku tapi aku cuek. Kutekan kuat-kuat hatiku, kutahan air mata yang hendak memaksa mengalir. Bola mataku kemudian menjelajahi seluruh sudut mesjid mencari keberadaanya dan kudapati pada satu sudut ia sedang sholat dhuha. Ya Allah,,,,,bagaimana mungkin aku melakukan hal bodoh tadi. Tapi sungguh kulakukan itu semua untuk menjaga fitrah cinta yang kupunya. Aku tak mau menaruh harapan padanya juga tidak akan mencintanya. Ia belum halal untukku ya Allah, maka kumohon kuatkan hatiku untuk tidak menaruh hati ini padanya.

          Hari berganti hari, bulan berganti bulan aku tak lagi melihat sosoknya. Hingga hari ujian munaqasahku dan hari wisudaku. Aku masih tidak menemukan dirinya. Aku kecewa, sedih, tapi juga bahagia,,,,,,,,

[ Fitri Za'im Ukhrowi ]
Facebook Twitter Google+
Back To Top