Surat Kecil untuk Ayah...



Dear Ayah...
Ketika engkau marah, semua perkataanmu selalu berhasil membuatku tercekat.
Air mataku pasti terjatuh hingga membuatku tak bisa lagi melihat.
Tenggorokanku kering hingga tak bisa lagi bersuara.
Nafasku tersendat..
Dadaku sesak hingga rasanya ingin mati saja.

Surat Kecil untuk Ayah...


Ketahuilah ayah...
tidak pernah ada kata terpaksa untuk membantumu
tidak pernah!!

Kenanglah ayah, walaupun sakitku hanya beberapa bulan saja,
Namun aku menjadi paham tentang apa yang engkau rasa selama ini.

Aku mengerti, seperti apa rasanya depresi karena tidak bisa melakukan apa-apa sendiri
Aku mengerti, seperti apa rasanya depresi karena kesepian
Aku mengerti, seperti apa rasanya depresi menahan sakit...

Lantas,
Bagaimana mungkin ada rasa terpaksa ketika aku paham rasa sakitmu?
Bagaimana mungkin ada rasa terbebani ketika aku terlalu mencintaimu?
Bagaimana mungkin ada rasa kecewa ketika aku tau rasa kesepianmu?

Tapi ada saja hal-hal kecil dariku tanpa sadar memancing kemarahanmu yg setengah mati engkau tahan.
Ada saja kekhilafanku yang membuat engkau merasa terabaikan.

Diamku bukan berarti aku mengakui sepenuhnya adalah salahku.
bukan pula tak bisa membela diri dan menjelaskan mengapa seperti itu.
Aku terlalu mengenalmu.
Aku pun memahami deritamu.
Aku tak ingin membuatmu menjadi terpojok.
dan aku tidak mungkin menyalahkan sikapmu yg pemarah hanya karna hal sepele.
tidak mungkin aku menyalahkan ujian sakit yang melumpuhkanmu bertahun-tahun.
karena aku yakin, engkau pun turut menyesal dengan sikapmu yang seperti itu.

Kadang aku berpikir, agar kematianku lebih dahulu dari waktumu.
agar aku tak lagi jadi penyebab amarahmu.
agar aku tidak menyesal karena menjadi jembatan kematianmu.

Tapi bagaimana ayah, aku masih merasa belum siap bertemu dengan-Nya lebih cepat.
Aku merasa belum mampu menjawab tepat pertanyaan-pertanyaan dari malaikat-Nya.
Aku merasa takut akan siksa dan panasnya api neraka.

Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berusaha terus memperbaiki sikap
memperbaiki diri agar lebih baik di hadapan-Nya dan matamu.
agar kelak bisa melihat air mata kebahagiaanmu karenaku
dan menjadi obat rasa sakitmu, bukan racunmu.

Lekaslah pulih ayah,
dan panjang umur yang bermanfaat.

Maafkan aku yang sering lupa kewajibanku.
Maafkan aku yang belum mampu menyampaikan kecintaanku dengan benar.
Maafkan aku yang belum pernah bisa membahagiakan, terlebih membanggakanmu.


Tapi mohon ketahuilah ayah.
Aku berharap agar Sang Rabb memberikan cukup waktu untuk membahagiakanmu.
Meski di dunia tindakanku belum mampu membuatmu sadar akan rasa cintaku.
Percayalah, aku sedang berusaha menempatkanmu di Surga-Nya
Akan ku perjuangkan mati-matian untuk menjadi kebangganmu di hadapan-Nya
hingga Allah mengabulkan doa-doaku agar kelak menghadiahkanmu kehidupan indah diSurga

Sungguh, "Aku mencintaimu karena Allah"


Penulis : Tiwi A-Natha (anatha_tiwi@yahoo.com)
Facebook Twitter Google+
Back To Top