Ketika malam mulai menebar sunyi, semakin terdengar jelas hatiku memanggil namaMu..



Waktu telah menunjukkan dini hari dan aku masih terjaga. Duduk bertafakur dalam balutan mukenah putih selepas istikharah. Lirih itu masih terdengar sama dari malam-malam kemarin,

memohon petunjuk untuk sebuah pilihan yang harus kuambil. Menerima atau menolak. Singkat saja namun kenyataannya tak semudah itu bagiku. Sesaat setelah Ratih mengatakan bahwa pamannya berniat mengkhitbahku, aku hanya bisa terperangah tak percaya. Otakku berputar dengan cepat. Kesana kemari dengan ponsel masih menempel di telinga, berusaha mencari kata-kata tepat untuk menanggapi kabar yang disampaikan oleh wanita yang tak lain adalah sahabatku sejak di bangku SMA.

Ketika malam mulai menebar sunyi, semakin terdengar jelas hatiku memanggil namaMu..


“Jangan panggil dia om kayak aku, canggung. Panggil Mas Syahrul aja katanya. Nggak kebayang Ra, nanti aku jadi ponakanmu. Hihihi..”

Pasti menyenangkan menjadi bagian dari keluarga teman karibku sendiri. Namun entah mengapa kegamangan semakin membelenggu ketika Mas Syahrul datang menghadap ibu dan dengan santun menyampaikan keinginannya menikahiku. Entah roman wajah seperti apa yang kutunjukkan saat itu. Hanya bisa tergugu di sebelah ibu, sesekali menyungging senyum.

“Tidak perlu buru-buru, Mas tidak meminta jawabannya sekarang. Jika bersedia, Insya Allah Mas akan datang lagi bersama keluarga untuk melamar Naura secara resmi.”

Aku mendesah setiap kali memikirkan tentang jawaban. Sebenarnya pilihan itu telah jatuh pada opsi menerima. Angka dua lima menunjukkan usia yang pas berumah tangga bagi seorang wanita. Tak ada alasan yang berarti untuk menolak lamaran pria berperawakan sedikit gemuk yang diperkenalkan kepadaku saat acara Aqiqah anak pertama Ratih. Setelahnya ia meminta ijin ingin mengenal lebih dekat, darisana aku cukup paham apa maksudnya. Baiklah silahkan saling mengenal tanpa istilah pacaran, tanpa di bumbui khalwat, tegasku.

Dua belas tahun. Selisih usia kami cukup jauh, mengingat ia memang adik bungsu ayah Ratih yang katanya nyaris lupa mencari jodoh, terlalu sibuk menekuni berbagai usaha. Dari mengurus restoran milik keluarga, jual beli property, dan menjadi owner sebuah toko elektronik. Pekerja keras, mandiri, telaten dan amat cakap di bidang bisnis tak ayal membuatku terkesima. Tentang ia yang akan meminangku benar-benar diluar dugaan, sedikitpun aku belum berani berharap sejauh itu. Meski sejak pertemuan pertama, dari segi fisik tak ada yang membuatku tertarik tetap saja niat Mas Syahrul memiliki secara halal adalah keberuntungan bagi wanita biasa sepertiku. Terlahir dari keluarga di bawah kata berkecukupan, jika bukan karena ketangguhan Ibu sebagai pedagang nasi pecel keliling, mungkin gelar sarjana Sastra Inggris selamanya hanya akan jadi bintang di atas sana, tak mampu kugapai.

Sama halnya menikah, harapan itu bahkan nyaris pupus kala teman sebaya berstatus single kian menjadi minoritas. Tahun-tahun sebelumnya bukan tak ada sosok yang coba mendekati. Tawaran untuk berkomitmen datang bergantian tapi hanya sebatas jalinan tak resmi. Dan Alhamdulillah meski telah membudaya, tak sekalipun aku tergoda untuk menjalani ikatan yang disebut pacaran. Selain perkara agama memang melarang, juga persoalan hati yang cukup rumit.
“Kamu tahu tidak, lelaki yang pantas mendapatkan cintamu adalah dia yang berani menikahimu.” Ujar seseorang.

Takut jatuh cinta mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana acuhku selama ini terhadap lawan jenis. Persoalan kriteria pria idaman pun membuatku linglung sendiri. Entahlah, setiap di hadapkan pada pertanyaan tentang kriteria calon suami, hanya senyum penuh arti yang tersuguhkan.
Sungguh lidahku tiba-tiba saja kelu, sekelu untuk mengucap kata “iya” pada pria yang kini juga resah menanti kepastian.

Mungkin karena terlalu lama terkubur dalam memori hingga bibir ini telah lupa cara menjabarkan sosok seperti apa yang kucari. Jika kutanya hati, samar ia hanya berbisik, seolah sedang mengeja satu nama.

Penulis : Risma Idrus

Website : cimmayounice.wordpress.com
Facebook Twitter Google+
Back To Top